Ini Nasib Kuliner Betawi Di Kampung Sendiri

Walaupun Betawi diketahui banyak orang bagaikan etnis asli Bunda Kota, tetapi saat ini bukan cuma eksistensinya yang kian tergerus. Hasil olah rasa alias kuliner khas Betawi juga mulai susah didapatkan. Sebagian santapan serta kudapan khas Betawi apalagi saat ini makin sangat jarang ditemui sebab cuma dapat ditemukan pada momen tertentu saja.

Perihal ini dialami Jumroh Mamid, warga asli Betawi yang tinggal di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Wanita berumur 55 tahun ini menceritakan, saat ini cuma dapat menikmati aneka macam masakan Betawi dikala kegiatan festival Betawi, semacam Lebaran Betawi yang diselenggarakan setahun sekali.

“ Agak sulit memanglah jika kita pengen masakan khas Betawi,” keluhnya.

Tidak hanya hanya sedikit yang menjual santapan tradisional Betawi, saat ini ini juga kata Jumroh, tidak banyak masakan khas Betawi yang rasanya seautentik dahulu pesan roti buaya . Jumroh membandingkannya dengan masakan Betawi buatan ibunya.

Bagi PNS salah satu lembaga ini, masakan Betawi di masa kemudian lebih‘ berani bumbu’, sehingga mempunyai rasa yang kokoh. Beberapa bumbu yang digunakan dahulu juga didapatkan dari rempah asli, bukan bumbu praktis semacam yang banyak ditemui dikala ini.

Permasalahan bumbu ini diakui oleh salah satu orang dagang santapan tradisional Betawi, Nuryansih( 40). Kepada Validnews, Senin( 29/ 7), wanita yang telah 8 tahun membuka warung santapan Betawi ini memperhitungkan, penjual santapan Betawi saat ini, banyak yang tidak‘ berani’ buat urusan bumbu pesan roti buaya .

Sementara itu bagi ia, taburan bumbu bumbu yang lebih banyak ialah kunci pembeda masakan Betawi dengan santapan yang lain. Ia mencontohkan, antara semur Betawi serta semur Jawa.

Dari segi sajian, semur Betawi lebih mempunyai kuah yang lebih kental dengan corak yang lebih gelap. Dikala memakan semur Betawi, rasa merica, jinten serta pala yang tajam lebih santer terasa dibanding dengan semur Jawa.

“ Berani bumbu. Jika semur Betawi lebih banyak kecap serta lebih pedas,” jelasnya.

Nuryansih sendiri mengaku, memperoleh kemampuan mencerna masakan tradisional Betawi dari orang tuanya. Berbekal formula orang tua, ia membuka warung makan di Cakung, Jakarta Timur, yang menyuguhkan masakan Betawi berbagai Oblok Bebek, Semur Betawi, Nasi Ulam serta Gabus Pucung.

Usaha kuliner yang lokasinya dekat 4 km dari Majelis hukum Negara Jakarta Timur tersebut saat ini apalagi diketahui warga dekat memiliki menu Oblok Bebek yang gurih.

Walaupun bahagia santapan Betawi bikinannya laku, Nuryansih sesungguhnya masih gundah. Melalui percakapan warung, dia ketahui, masakan Betawi saat ini tidak begitu terkenal di warga.

Saking tidak populernya, tidak sedikit pelanggan di warung makan miliknya yang bertanya lebih jauh soal masakan Betawi, berikut metode mencernanya.

Sedikit berbagi rahasia, buat memasak Oblok Bebek, kunci kelezatannya merupakan dikala bebek diungkep( proses masak dengan api kecil supaya bumbu meresep). Baginya, mengungkep memakai metode tradisional dengan panci biasa lebih dianjurkan sebab hendak melindungi cita rasa asli makanannya.

Sayangnya mayoritas orang, malah memilah memakai panci presto( panci bertekanan besar) buat memesatkan proses pengungkepan. Perihal ini dinilainya malah hendak mengganggu rasa autentik dari bebek itu sendiri.

“ Yang berarti wajib berani bumbu serta tabah masaknya. Jangan bumbu jadi ataupun yang telah digiling di pasar,” ia menegaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *